Categories :

Belajar SEO Part 1: Canonical URL

Belajar SEO atau Belajar digital marketing pada umumnya memang ga pernah mudah.

Dan karena tidak mudah itu, akan lebih bijak kalo kita belajar dari yang mudah-mudah saja dulu, biar semangat!

Kali ini kita belajar SEO dengan topik utama Canonical URL. Kenapa gue pilih Canonical URL adalah karena rasa penasaran gue terhadap banyak e-commerce yang ga hanya trending tapi juga menguasai jagat SERP.

Jadi begini, kita tahu kalo e-commerce yahut macam amazon.com tokopedia.com, bukalapak.com, shopee.com, bhinneka.com atau mungkin website bisnis skala kecil semacam ucokdurian.id menjual ratusan bahkan mungkin jutaan produk

Untuk mudahnya kita sebut saja produk ini sebagai SKU (Stock Keeping Unit).

SKU dalam sebuah situs e-commerce terkenal macam amazon.com tentu akan sangat banyak sekali, contohnya jika dilihat dari url adalah sebagai berikut:

itu adalah url untuk produk Welch’s Fruit Snacks, Mixed Fruit, Gluten Free, Bulk Pack, 0.9 oz Individual Single Serve Bags (Pack of 40).

Dalam situs amazon.com kita bisa memilih varian rasa dan ukuran untuk produk yang sama, dalam kasus ini kita memilih ukuran 0.9 oz dengan varian mixed fruit.

URL nya tentu akan sedikit berbeda jika kita memilih untuk memesan varian mixed fruit tetapi dengan ukuran yang lebih besar, misal kita ambil ukuran 1.55 oz, url barunya akan menjadi:

Sudah melihat perbedaan dari kedua URL itu? harusnya sih ga sulit ya, kedua url itu menginduk kepada produk dengan url https://www.amazon.com/WELCHS-Mixed-Fruit-Snacks-Ounce/dp

Perlu diingat disini bahwa untuk dapat ter-indeks di halaman google (SERP), sebuah url haruslah memiliki konten yang unik dan tidak duplikat.

Konten disini tidak hanya isi artikel blog, atau dalam hal ini deskripsi produk Welchs snack tadi, tapi juga url nya. Dan disinilah masalahnya, sebuah e-commerce sangat boleh jadi memiliki URL dengan deskripsi produk yang berbeda tetapi menginduk pada halaman yang sama.

Biasanya alasan peng-kategorian produk adalah penyebabnya.

Dengan bahasa indonesia yang lebih sederhana, Google tidak suka sebuah situs memiliki url yang berbeda dengan halaman yang sama, jika kamu melakukannya, maka azab-lah penalti-lah balasannya.

Dan jujur aja gue bilang sama kalian, sekalinya Google kasih penalti, lebih baik kalian cari domain baru dan bikin dari awal.

Lalu bagaimana caranya biar Google paham dan tidak memberikan penalti terhadap halaman yang sama ini? Gunakanlah Canonical URL.

Contoh: tambahin aja html tag seperti ini di halaman yang kalian rasa berpotensi menjadi duplikat:

<link rel="canonical" href="inserturl.com<?php echo $_SERVER['REQUEST_URI'];?>" />

canonical url untuk lupakan ardhosting.com qwords.com niagahoster.com domainesia.com beli domain murah vps usa murah di donomen.com
Canonical URL pada WordPress Yoast SEO Plugin

misal kamu punya sebuah website beralamat di www.donomen.com/contoh2 dengan isi dan meta tag yang sangat boleh jadi mirip dengan www.donomen.com/contoh

Selain itu juga, kamu ingin memberitahukan kepada Google bahwa lebih baik crawl(index) halaman /contoh saja karena /contoh2 isinya sama.

maka kamu bisa menggunakan canonical url sebagai berikut di halaman /contoh2

<link rel="canonical" href="https://www.donomen.com/contoh/" />

kira-kira contoh sederhananya begitu, nah, ada juga beberapa alasan kalian perlu menggunakan canonical url, diantaranya:

  • ketika kalian melakukan repost, disini repost berarti artikel yang memiliki kecenderungan isi yang sama, daripada dibilang plagiat atau dianggap duplikat sama Google, letakkan saja canonical url disana.
  • ketika melakukan sindikasi blog, kondisi ini mirip dengan repost, bedanya sindikasi ini otomatis dan digabung dengan banyak konten dari blog lain.
  • ketika kalian melakukan A/B testing terhadap suatu halaman, ini cukup jelas ya, A/B testing adalah strategi dimana si orang digital marketing melakukan penggantian elemen-elemen dalam halaman biar bisa melihat mana yang lebih perform.
  • ketika kalian diingatkan akan adanya potensi duplikat konten oleh tim copywriting.

Mungkin ada yang bertanya, kalo gitu kenapa ga pake redirect 301 aja, kan sama-sama ga dianggap sama Google.

Perlu diingat HTTP Code 301 adalah redirect yang ditujukan pada mesin, yang artinya, halaman yang dilakukan redirect 301 sangat boleh jadi tidak mungkin akan dibaca oleh manusia.

Canonical URL digunakan untuk artikel atau halaman yang masih butuh dibaca oleh manusia tapi tidak perlu di index karena sifatnya yang duplikat.

Gampangnya, pakai http code 301 jika kamu yakin manusia ga perlu lihat halaman tersebut, atau gunakan Canonical URL jika kamu yakin orang lain mungkin perlu membaca halaman itu.

Kira-kira itulah bahasan ringan seputar belajar SEO. Jangan lupa subscribe untuk dapatkan artikel terbaru tentang digital marketing dan penerapannya di berbagai industri digital di Indonesia.

Semoga menghibur.

One Reply to “Belajar SEO Part 1: Canonical URL”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *